Menunggu "Garak Dari Langit"Harapan Bedah Rumah Tak Kunjung Datang Untuk Keluarga Idon Di Lengayang
- Apr 24, 2026
- Wandi Jusri
- Kabar Daerah
LIPUTAN KHUSUS Pesisir Selatan ,Pilarnagari.kim.id — Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan berbagai program bantuan sosial, nasib pilu masih menyelimuti keluarga Idon (45) dan Regi (42), warga Kampung Tarok Gadang, Nagari Lakitan Utara, Kecamatan Lengayang. Harapan akan bantuan bedah rumah yang telah dinanti sejak tahun 2015 hingga kini tak kunjung menjadi kenyataan.
Rumah yang mereka tempati jauh dari kata layak. Berukuran sekitar 7x4 meter, dindingnya hanya terbuat dari batang kelapa yang telah lapuk dimakan rayap. Atap seng bekas yang menutupi rumah itu pun bocor di banyak titik, membuat air hujan dengan mudah masuk ke dalam. Lantainya masih berupa tanah keras yang hanya dialasi karpet plastik usang dan robek.
Di rumah sederhana itulah Idon dan Regi membesarkan dua orang anak mereka yang masih kecil. Dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas, Idon hanya bekerja sebagai kuli serabutan dan sesekali menjadi sopir mobil pariwisata, itupun jika ada panggilan kerja. Sementara Regi, sebagai ibu rumah tangga, hanya bisa berharap akan datangnya bantuan yang selama ini dijanjikan.
Ironisnya, rumah tersebut sudah berkali-kali didatangi dan didokumentasikan oleh berbagai pihak, baik dari pemerintah nagari, dinas sosial, hingga Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Namun, kunjungan demi kunjungan itu belum membuahkan hasil nyata.
“Sudah sering difoto, sudah banyak yang datang melihat. Terakhir akhir tahun 2025, Ketua BAZNAS Kabupaten Pesisir Selatan, Yose Leonardo, bersama staf juga datang. Tapi sampai sekarang belum ada kabar lanjutan,” ungkap Idon dengan nada lirih penuh harap.
Bagi keluarga ini, setiap kedatangan petugas membawa secercah harapan. Namun seiring waktu, harapan itu perlahan berubah menjadi penantian panjang tanpa kepastian. Seolah hanya menjadi objek dokumentasi tanpa tindak lanjut.
Kondisi ini tentu menjadi ironi di tengah berbagai program pemerintah yang digadang-gadang menyasar masyarakat kurang mampu, khususnya dalam penyediaan hunian layak. Pertanyaan pun muncul, mengapa keluarga Idon yang jelas-jelas hidup dalam keterbatasan dan kondisi rumah yang memprihatinkan belum juga tersentuh bantuan?
Masyarakat sekitar pun berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah, dinas terkait, serta lembaga sosial untuk segera turun tangan. Bantuan bedah rumah bukan lagi sekadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi keharusan demi keselamatan dan masa depan anak-anak mereka.
Kini, keluarga Idon hanya bisa menunggu—menanti “garak dari langit” yang entah kapan akan benar-benar turun menjadi kenyataan.
Semoga suara kecil dari sudut Lengayang ini dapat mengetuk hati para pemangku kebijakan, agar bantuan yang selama ini hanya sebatas wacana dan dokumentasi, bisa segera diwujudkan dalam bentuk nyata. Karena bagi Idon dan keluarganya, satu rumah layak huni adalah harapan besar untuk hidup yang lebih baik.*Wandi*