Balimau Basamo Di Pasar Kambang Tradisi Sakral Yang Menyatukan Warga Dan Perantau Pesisir Selatan
- Mar 01, 2025
- Wandi Jusri
- Kabar Nagari
Pesisir Selatan, pilarnagari.kim.id – Ribuan masyarakat berkumpul di Lapangan Telaga Harapan, Pasar Kambang, untuk mengikuti Balimau Basamo, tradisi penyucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Tahun ini, acara yang biasanya digelar di masing-masing nagari disatukan dalam satu lokasi, menciptakan suasana yang lebih semarak dan penuh Jumat (28/2/2025)
Acara ini tidak hanya dihadiri oleh warga setempat, tetapi juga para perantau yang sengaja pulang kampung, termasuk Martius, seorang pengacara sukses dari Kalimantan. Ia menyempatkan diri pulang ke kampung halaman demi merasakan kembali tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupannya.
Balimau: Ritual Pembersihan Diri dan Hati
Balimau bukan sekadar mandi biasa, tetapi memiliki makna spiritual yang dalam. Dalam prosesi ini, peserta menyapukan air limau ke kening dan rambut sebagai tanda penyucian diri sebelum menjalani ibadah Ramadan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi momen saling bermaafan, mempererat hubungan keluarga dan masyarakat.
Bagi Martius, Balimau Basamo bukan sekadar ritual, tetapi juga momen emosional yang penuh makna. “Saya sudah bertahun-tahun di perantauan, dan setiap Ramadan selalu teringat suasana Balimau di kampung. Tradisi ini mengajarkan kita bahwa sebelum memasuki bulan suci, kita harus membersihkan hati, meminta maaf, dan menjalin kembali silaturahmi yang mungkin sempat renggang," ungkapnya.
Sebagai seseorang yang telah lama tinggal di luar daerah, Martius berharap Balimau Basamo tetap lestari dan semakin dikembangkan. "Tradisi seperti ini bukan hanya mempererat hubungan warga kampung, tetapi juga mengingatkan para perantau akan akar budaya mereka. Saya bangga bisa pulang dan merasakan suasana seperti ini lagi," tambahnya.
Pendanaan dari Gotong Royong Masyarakat
Dalam laporannya, Ketua Panitia Aprizal Datuak Bagindo Kayo mengungkapkan bahwa acara Balimau Basamo ini dapat terselenggara berkat sumbangan dari berbagai pihak, termasuk sumbangan per nagari, sumbangan Ikatan Warga Kampung (IKWAL), Kerapatan Adat Nagari (KAN), serta para perantau yang ingin tetap terlibat dalam tradisi kampung halaman mereka.
"Kegiatan ini bisa berjalan lancar berkat dukungan dan gotong royong dari banyak pihak. Ini menunjukkan betapa kuatnya semangat kebersamaan masyarakat kita, baik yang ada di kampung maupun di perantauan," ujar Aprizal.
Sambutan Hangat dari Para Tokoh
Dari pihak pemerintah, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Pesisir Selatan, Suhendri, menilai bahwa tradisi ini bisa dikembangkan sebagai event budaya unggulan. "Balimau Basamo bisa menjadi daya tarik wisata yang unik, memperkenalkan budaya kita ke masyarakat luas, bahkan wisatawan dari luar daerah," ujarnya.
Sementara itu, Datuak Rajo Hidin, mewakili Niniak Mamak, menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai yang terkandung dalam Balimau. "Ini bukan hanya sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga pengingat bahwa kita harus memasuki Ramadan dengan hati yang bersih dan hubungan sosial yang harmonis," katanya.
Meriahnya Balimau Basamo dengan Kesenian Tradisional
Acara semakin meriah dengan berbagai pertunjukan kesenian tradisional, seperti Tari Piring, Randai, dan alunan Gendang Sarunai. Keindahan seni budaya ini semakin menghidupkan suasana, membuat para perantau merasa seperti kembali ke masa kecil mereka.
Seorang perantau lainnya, Rina (29) dari Batam, mengaku terharu bisa kembali merasakan suasana Balimau. “Saya sudah lama tidak melihat tari-tarian dan mendengar suara gendang sarunai secara langsung. Ini mengingatkan saya betapa pentingnya melestarikan budaya kita,” katanya.
Puncak Acara: Ritual Balimau dan Saling Bermaafan
Ketika puncak acara tiba, masyarakat beramai-ramai membasuh kening dan rambut dengan air limau, melambangkan penyucian diri. Setelah itu, mereka saling bermaafan, menjalin kembali hubungan yang mungkin sempat renggang selama setahun terakhir.
Bagi perantau, ini menjadi momen yang sangat berharga. “Bisa meminta maaf langsung kepada keluarga dan kerabat setelah sekian lama jauh dari kampung adalah sesuatu yang tak ternilai harganya,” ujar Firman (40) dari Pekanbaru.
Harapan untuk Balimau Basamo ke Depan
Dengan suksesnya acara ini, banyak warga berharap Balimau Basamo tetap dilaksanakan setiap tahun, bahkan dengan skala yang lebih besar. Para perantau seperti Martius berharap acara ini semakin berkembang, bukan hanya sebagai ajang budaya, tetapi juga sebagai momen pemersatu warga kampung dan perantau.
“Balimau Basamo adalah identitas kita. Jika bisa terus dilestarikan, ini akan menjadi sesuatu yang kita banggakan sebagai masyarakat Pesisir Selatan," tutup Martius.
Dengan penuh semangat dan kehangatan, Balimau Basamo 2025 di Pasar Kambang bukan hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga simbol persatuan, kebersamaan, dan nostalgia bagi para perantau yang kembali ke kampung halaman.*Wandi**