Dia Datang Padaku Saat Dia Membutuhkan ku
- Nov 04, 2024
- Nisa'ul Lathifah
Pengarang:Nisa'ul Latifah,Kelas XI F3, SMAN 3 Painan,lahir 12 September 2008 di Painan.
Pilarnagari.kim.id- Saat pembagian kamar di asrama, kami semua merasa bahagia. Suasana begitu hidup. Setiap orang mulai beradaptasi dengan teman sekamar baru, berbagi cerita, dan bercanda tawa. Aku merasa sangat beruntung karena ditempatkan sekamar dengan teman dekatku. Dalam pikiranku, ini kesempatan untuk semakin dekat, berbagi cerita setiap malam, dan saling mendukung. Namun, semua itu ternyata hanya ada dalam angan-anganku saja.
Hari-hari pertama berjalan biasa saja, tapi lambat laun aku menyadari ada yang berubah. Temanku, yang dulu hangat, kini tampak selalu sibuk. Waktu untuk berbicara denganku semakin sedikit, bahkan hampir tidak ada. Aku sering menunggu momen untuk bisa bercerita seperti dulu, tapi dia selalu terburu-buru atau sibuk dengan urusannya sendiri. Rasanya seperti aku tak terlihat.
Sebulan berlalu, dan aku tak menyangka akan menghadapi situasi yang lebih berat. Suatu pagi, aku melihat barang-barangnya berserakan di atas meja, dan dengan niat baik, aku mencoba merapikannya. "Mungkin dia lupa," pikirku. Namun, ketika dia kembali ke kamar dan melihat barang-barangnya telah kupindahkan, wajahnya berubah marah.
"Kamu ngapain sentuh barang-barangku?" dia membentakku keras. Suaranya begitu tajam, menusuk ke dalam hati.
Aku terpaku. Aku hanya ingin membantu, tapi dia malah membentakku. “Maaf, aku hanya berniat membereskan,” jawabku pelan, sambil menahan perih di dada. Namun, dia tidak peduli. Sejak saat itu, suasana di antara kami menjadi dingin. Dia semakin jarang bicara denganku, dan sering meninggalkanku sendirian di kamar.
Seiring waktu berlalu, hubungan kami semakin renggang. Kehadiran orang ketiga, teman baru yang lebih sering bersamanya, membuat kami semakin jauh. Tidak ada lagi percakapan di malam hari, tidak ada canda tawa. Kamar yang dulu kurasa hangat, kini menjadi sunyi. Setiap kali aku ingin berbicara dengannya, dia selalu tampak sibuk atau menghindar. Kami benar-benar seperti orang asing.
Suatu malam, setelah beberapa hari kami tidak bicara, dia tiba-tiba menghampiriku. Matanya tampak lelah, ada rasa khawatir di wajahnya.
“Bisa tolong aku?” katanya pelan.
Aku terdiam. Dalam hatiku, terlintas rasa sakit atas semua yang telah terjadi. Dia datang hanya saat dia butuh bantuanku. Lalu, apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menolaknya? Haruskah aku membalas sikapnya? Aku punya banyak alasan untuk membiarkannya sendiri, seperti dia sering meninggalkanku dulu. Namun, di tengah keraguan itu, hatiku berkata lain.
“Baiklah,” jawabku, meski suaraku terdengar berat. Aku memilih untuk menolongnya. Bukan karena aku lemah, tapi karena aku percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang lebih baik.
Setelah membantu menyelesaikan masalahnya, aku menyadari sesuatu. Menolong tanpa berharap balasan adalah hal yang mulia. Dan pada akhirnya, Tuhan membalas kebaikan kita dengan cara-Nya sendiri. Meskipun hubungan kami tidak kembali seperti dulu, aku merasa lega karena aku telah melakukan yang benar.(NL)