Ekowisata Amping Parak Resmikan gedung Edukasi,Tanam 17 Ribu Mangrove Dan Lepas Penyu Bersama PT Telkom Sumbar -Jambi
- Oct 06, 2025
- Wandi Jusri
- Kabar Daerah
Webtorial Sutera, pilarnagari.kim.id 6 Oktober 2025 — Kawasan Ekowisata Ampiang Parak di Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, kembali mencuri perhatian publik. Senin pagi itu, suasana pesisir berubah semarak dengan hadirnya ratusan peserta dalam kegiatan peresmian Gedung Edukasi Lingkungan, penanaman mangrove, dan pelepasan penyu ke laut.
Acara yang sarat makna tersebut menjadi momentum penting bagi masyarakat pesisir untuk memperkuat komitmen menjaga kelestarian alam sekaligus mendorong wisata berkelanjutan.
Kegiatan besar ini diinisiasi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Pesisir Selatan bekerja sama dengan PT Telkom Wilayah Sumbar–Jambi melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Kolaborasi tersebut menjadi wujud nyata sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun kesadaran ekologis di daerah pesisir.
Acara berlangsung penuh semangat kebersamaan. Hadir langsung General Manager PT Telkom Wilayah Sumbar–Jambi, Muhammad Ikhsan, yang menyerahkan bantuan 17.000 bibit mangrove serta tambahan 1.700 batang untuk penyisipan di kawasan pesisir Ampiang Parak.
Penanaman mangrove ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga ekosistem pantai, menahan abrasi, sekaligus memperkuat daya tarik wisata berbasis konservasi di Pesisir Selatan.
Lebih dari itu, penanaman mangrove juga diyakini dapat meminimalisir dampak bencana jika prediksi BMKG dan pakar gempa tentang potensi Megathrust Mentawai benar-benar terjadi, karena akar mangrove mampu meredam gelombang besar dan menjaga garis pantai tetap stabil.
Selain penanaman Mangrove secara simbolis kegiatan juga diisi dengan peresmian Gedung Literasi Media dan Edukasi Lingkungan oleh Wakil Bupati Pesisir Selatan, H. Risnaldi Ibrahim.
Gedung tersebut akan difungsikan sebagai pusat pembelajaran, literasi digital, dan pemberdayaan masyarakat pesisir dalam bidang lingkungan hidup.
Tak hanya itu, Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan Kehati, Rika Angraeni, turut menyerahkan bantuan CSR berkelanjutan berupa dana abadi untuk mendukung kegiatan konservasi di Ampiang Parak.
Bantuan ini menjadi bentuk komitmen Yayasan Kehati terhadap gerakan pelestarian alam berbasis masyarakat yang digagas dari bawah.
Dalam sambutannya, Rika Angraeni menyampaikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Ampiang Parak yang telah membuktikan bahwa pelestarian alam bisa berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi.
> “Kami dari Yayasan Kehati melihat bahwa apa yang dilakukan Haridman dan kawan kawan adalah contoh nyata praktik konservasi berbasis masyarakat. Ini bukan hanya tentang menanam pohon, tapi tentang menanam kesadaran, membangun masa depan, dan menjaga warisan bagi generasi berikutnya,” ujar Rika.
Ia menambahkan, komitmen Yayasan Kehati akan terus berlanjut untuk mendampingi inisiatif seperti ini agar menjadi model nasional.
> “Kita ingin menjadikan Ampiang Parak sebagai laboratorium hidup bagi edukasi lingkungan dan wisata berkelanjutan. Dukungan dari semua pihak akan membuat kawasan ini semakin kuat dan berdaya,” lanjutnya.
Turut hadir sejumlah pejabat penting daerah, di antaranya Kadis Kominfo Wendi, Kepala Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Firdaus, Kepala BPBD Yuskardi, Sekretaris Dinas PUTR Subchandri, Camat Sutera Dailipal, dan Camat Lengayang Alpriyendri.
Kehadiran Pimpinan Cabang Bank Nagari Painan Ira Angraeni, Walinagari se-Kecamatan Sutera, serta unsur Forkopimca Sutera dan Lengayang menambah semarak acara yang turut dihadiri niniak mamak, alim ulama, dan tokoh masyarakat setempat.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Pesisir Selatan, H. Risnaldi Ibrahim, menyampaikan apresiasi tinggi kepada pengurus Ekowisata Ampiang Parak di bawah kepemimpinan Haridman, S.T.
Ia menilai perjuangan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam dan mengubah kawasan pesisir menjadi destinasi wisata unggulan patut menjadi contoh bagi nagari lain.
> “Saya sangat mengapresiasi semangat para pengurus Ekowisata Ampiang Parak. Terima kasih kepada PT Telkom, Yayasan Kehati, Bank Nagari, dan semua pihak yang telah mendukung. Inilah kolaborasi yang patut ditiru,” ujar Wabup Risnaldi dalam sambutannya.
Sementara itu, Muhammad Ikhsan dari PT Telkom mengaku bangga bisa berkontribusi langsung dalam kegiatan yang memberi manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan.
Menurutnya, program penanaman mangrove bukan sekadar penghijauan, tetapi juga tentang membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
> “Ini bukan hanya tentang menanam pohon, tapi tentang menanam harapan bagi generasi mendatang. PT Telkom akan terus mendukung kegiatan konservasi seperti ini,” ujarnya.
Ikhsan juga menegaskan komitmen PT Telkom untuk membantu pemerintah dalam mengatasi wilayah blank spot atau daerah yang belum terjangkau jaringan komunikasi di Pesisir Selatan.
> “Konektivitas digital adalah kunci kemajuan. Kami siap memperluas jaringan agar semua nagari bisa terhubung dan maju bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Ekowisata Ampiang Parak, Haridman, S.T., menceritakan perjalanan panjang berdirinya kawasan wisata ini yang penuh perjuangan dan tantangan.
Dari kawasan pesisir yang dulu tandus dan panas, kini Ampiang Parak telah berubah menjadi destinasi wisata berkelas nasional, berkat kerja keras masyarakat dan dukungan berbagai pihak.
> “Dulu, banyak yang tak percaya kawasan ini bisa berkembang. Tapi berkat semangat gotong royong, kini lebih dari 72.000 pohon mangrove telah tumbuh subur di sini,” ujar Haridman penuh semangat.
Haridman menambahkan, penanaman mangrove secara besar-besaran ini setidaknya mampu meminimalisir dampak jika terjadi gempa besar berkekuatan 8,9 skala Richter yang disertai tsunami setinggi 35 meter, sebagaimana diperkirakan para pakar dan BMKG.
> “Akar mangrove yang rapat bisa menjadi benteng alami untuk menahan gelombang dan melindungi wilayah pesisir dari terjangan air laut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Haridman menuturkan bahwa kawasan mangrove seluas 60 hektar di Ampiang Parak kini telah menjadi rumah bagi kepiting, udang, dan ikan yang produksinya mencapai sekitar 1 ton per hektar per tahun.
> “Selain melindungi dari abrasi dan tsunami, mangrove ini juga memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat. Nelayan kini bisa mendapatkan hasil tangkapan lebih banyak karena ekosistem pesisir kita semakin subur,” ungkapnya.
Tak hanya berhasil di tingkat lokal, Ampiang Parak kini telah mengukir prestasi nasional dengan meraih Juara 3 Anugerah Desa Wisata Indonesia, bahkan sedang diproses untuk pengakuan UNESCO sebagai kawasan ekowisata kelas dunia.
Dalam kesempatan itu, Haridman juga menyampaikan rencana Bupati Pesisir Selatan, H. Hendrajoni, untuk membangun replika masjid terapung dan ruang edukasi baru guna memperkuat daya tarik wisata religi dan lingkungan.
Kegiatan yang dihadiri ratusan peserta ini berlangsung penuh antusiasme dan menjadi ajang silaturahmi lintas sektor antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
Acara juga mendapat liputan luas dari berbagai media lokal di Kabupaten Pesisir Selatan, baik media cetak maupun online, yang turut mengabadikan momen bersejarah tersebut.
Kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti nyata bahwa pelestarian lingkungan dan kemajuan teknologi dapat berjalan seiring, memberi manfaat besar bagi masyarakat dan daerah.
Melalui kegiatan yang digelar Senin, 6 Oktober 2025, Ekowisata Ampiang Parak diharapkan semakin dikenal luas sebagai ikon wisata konservasi dan edukasi lingkungan hidup di Pesisir Selatan — sekaligus menjadi inspirasi bagi nagari-nagari lain untuk bangkit menjaga alam dan memajukan daerahnya.*Wandi*