"Manunggu Garak Dari Langit Jilid Dua"Janji Yang Masih Menggantung Idon Bertahan Ditengah Harapan Rumah Impian

  • May 16, 2026
  • Wandi Jusri
  • Kabar Daerah

LIPUTAN KHUSUS Lengayang ,pilarnagari.kim.id Sudah sekian lama keluarga Idon hidup dalam penantian. Di balik dinding rumah sederhana yang mulai rapuh dimakan waktu, tersimpan harapan besar akan hadirnya bantuan rumah layak huni yang pernah dijanjikan. Namun hingga hari ini, harapan itu masih menggantung tanpa kepastian.
Beberapa waktu lalu pertengahan tahun 2025 Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Pesisir Selatan Yose Leonardo beserta stafnya sempat datang langsung melihat kondisi rumah Idon. dan pada tanggal 24 April 2026 pihak dari Dinas Sosial Kabupaten Pesisir Selatan juga datang berkunjung dan memberikan bantuan berupa sembako.
Dalam kunjungan tersebut, keluarga Idon mendapat secercah harapan setelah disampaikan bahwa bantuan rumah akan segera ditindaklanjuti.
Ucapan itu sempat menjadi penguat bagi Idon dan keluarganya untuk terus bertahan. Namun waktu terus berjalan, sementara bantuan yang dinanti belum juga terlihat kepastiannya.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, Idon sebenarnya telah berusaha mempermudah proses pembangunan rumah bantuan tersebut. Ia meminta agar rumah dibangun di atas tanah miliknya sendiri yang sudah memiliki pondasi. Lokasinya pun tidak jauh dari rumah lama yang saat ini masih ditempati.
Menurut Idon, lahan tersebut lebih layak dan aman untuk masa depan keluarganya. Namun, pihak BAZNAS disebut tetap menginginkan pembangunan dilakukan di lokasi rumah lama. Alasannya, bantuan hanya bisa direalisasikan di tempat tinggal yang sekarang, kecuali di lahan baru sudah terdapat bangunan rumah darurat.
Tak ingin harapannya kandas begitu saja, Idon akhirnya memberanikan diri membangun rumah darurat sederhana di atas pondasi yang telah lama disiapkannya. Dengan segala keterbatasan, ia mencoba memenuhi syarat yang diminta demi satu tujuan: agar keluarganya bisa memiliki rumah yang layak untuk ditempati.
Kini, rumah darurat itu telah berdiri. Meski sederhana, bangunan itu menjadi simbol perjuangan dan keyakinan bahwa bantuan yang dijanjikan suatu hari akan benar-benar datang.
Namun di balik itu semua, tersimpan pertanyaan yang masih terus menghantui keluarga kecil tersebut. Apakah bantuan itu benar-benar akan diwujudkan, atau hanya menjadi janji yang perlahan hilang ditelan waktu?
Di malam hari, ketika hujan turun dan angin mulai masuk dari celah-celah rumah lama yang mulai lapuk, Idon hanya bisa memandang bangunan darurat di tanah miliknya sambil menyimpan harapan dalam diam.
Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya bangunan biasa. Tetapi bagi Idon, rumah adalah tempat melindungi keluarga, tempat anak-anak berteduh, dan simbol perjuangan hidup yang hingga hari ini masih terus diperjuangkan.