Menu MBG Mega Jaya Laban Tuai Kritik, Evaluasi Standar Gizi Dan Tata Kelola Program Dipertanyakan
- Feb 06, 2026
- Wandi Jusri
- Kabar Daerah
LIPUTAN KHUSUS Pesisir Selatan,pilarnagari.kim.id- Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan oleh MBG Mega Jaya Laban Nagari Salido Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan menuai sorotan dari sejumlah sekolah penerima manfaat. Menu yang dibagikan pada hari ini Jumat (6/2/2025) dinilai belum mencerminkan prinsip gizi seimbang serta memunculkan pertanyaan terkait perencanaan menu, pengawasan mutu, dan kesiapan pelaksanaan program di lapangan.
Sikap tegas ditunjukkan oleh Kepala Sekolah SDN 25 Bukit Kaciak Lumpo, Nung Derita Herianti, yang memutuskan mengembalikan makanan MBG karena tidak diterima oleh peserta didik.
“Anak-anak kami tidak mau menerima makanan tersebut. Daripada dipaksakan dan akhirnya tidak dimakan, kami memilih mengembalikannya. Kami berharap ke depan menu MBG benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan gizi dan kebiasaan makan anak-anak,” ujar Nung Derita Herianti.
Ia menegaskan bahwa pihak sekolah mendukung penuh program MBG, namun mengharapkan pelaksanaannya dilakukan dengan perencanaan yang matang, menu yang tepat sasaran, serta pengawasan yang jelas, agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh peserta didik.
Sementara itu, di SDN 14 Laban, pihak sekolah juga menyampaikan keberatan setelah menerima menu yang terdiri dari kentang goreng lima iris, satu potong tahu, satu iris tomat, satu iris timun, sambal goreng satu sendok makan, serta satu siung semangka dan tampa Nasi Putih,Sekolah menilai komposisi tersebut belum proporsional untuk kebutuhan gizi anak sekolah dasar.
Setelah mendapatkan Komplain dari pihak SDN 14 Laban barulah pihak MBG menambahkan Satu butir telur rebus kedalam menu, namun proses penambahan tersebut membuat pihak sekolah harus menunggu Satu setengah jam sehingga berdampak pada jadwal makan dan aktivitas belajar siswa,situasi ini menyoroti kesiapan dapur serta mekanisme respon cepat pengelola MBG saat terjadi keluhan di lapangan
Selain itu, anak-anak penerima MBG di SDN 14 Laban mempertanyakan alasan nasi diganti dengan kentang. Sejumlah siswa menyampaikan kebingungan karena dalam pemahaman mereka, kentang umumnya dikategorikan sebagai pelengkap atau campuran lauk, bukan sebagai pengganti makanan pokok seperti nasi. Kondisi ini dinilai memengaruhi minat anak untuk mengonsumsi makanan yang disajikan.
Di sisi lain, informasi yang berkembang di masyarakat sekitar dapur MBG menyebutkan bahwa tenaga ahli gizi yang sebelumnya bertugas di Dapur MBG Mega Jaya Laban telah diberhentikan sekitar satu minggu yang lalu. Informasi ini menambah perhatian publik, mengingat peran ahli gizi sangat krusial dalam menentukan komposisi menu, porsi makanan pokok, serta substitusi bahan pangan. Namun demikian, informasi tersebut masih memerlukan klarifikasi resmi dari pihak pengelola MBG.
Respons sekolah penerima MBG dilaporkan bervariasi. Sebagian sekolah tetap menerima makanan yang disalurkan, sementara sekolah lainnya memilih mengembalikan menu karena tidak diminati oleh siswa. Perbedaan respons ini mengindikasikan belum adanya standar evaluasi dan komunikasi yang seragam antara penyedia MBG dan pihak sekolah.
Seiring dengan dinamika tersebut, sejumlah pihak mendorong Dinas Pendidikan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah penerima. Evaluasi diharapkan mencakup kesesuaian menu dengan kebutuhan peserta didik, dampak terhadap proses belajar mengajar, serta mekanisme koordinasi dan pengawasan lintas instansi.
Dorongan evaluasi oleh Dinas Pendidikan dinilai penting agar program MBG benar-benar mendukung kesehatan, kenyamanan, dan konsentrasi belajar siswa, serta tidak menimbulkan polemik di tingkat satuan pendidikan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan maupun pihak MBG Mega Jaya Laban terkait langkah evaluasi atau tindak lanjut atas keluhan sekolah.*adm*