Musda Ke VIII Bundo kanduang Kabupaten Pesisir Selatan Yuni Darmi Kembali Dipercaya, Komitmen Perkuat Adat Dan Budaya Minangkabau

  • Jul 27, 2025
  • Wandi Jusri
  • Kabar Pessel news

Painan, pilarnagari.kim.id 27 Juli 2025 – Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pesisir Selatan menjadi saksi sejarah digelarnya Musyawarah Daerah (Musda) ke-VIII Bundo Kanduang Kabupaten Pesisir Selatan. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan rutin organisasi, namun menjadi momen strategis untuk memperkuat kembali peran perempuan adat dalam menjaga marwah budaya Minangkabau di Kabupaten Pesisir Selatan.

Musda yang dihadiri oleh Penasehat Bundo Kanduang, Hj. Lisda Hendrajoni—yang juga Ketua TP-PKK Kabupaten Pesisir Selatan dan anggota DPR RI Komisi X dari Partai NasDem—menghadirkan suasana penuh semangat dan kekeluargaan. Turut hadir pula Ketua Bundo Kanduang Provinsi Sumatera Barat Neti Miharti beserta rombongan,para ketua Bundo Kanduang dari seluruh kecamatan, serta tokoh perempuan dan undangan

Musda tahun ini memutuskan secara bulat untuk kembali mempercayakan Yuni Darmi, S.Pd sebagai Ketua Bundo Kanduang Kabupaten Pesisir Selatan. Meski sebelumnya telah menyatakan keinginan mundur setelah dua periode memimpin, desakan dan permintaan bulat dari peserta membuatnya kembali bersedia mengemban amanah. “Saya tidak bisa menolak jika panggilan ini datang dari hati nurani bersama. Ini bukan tentang jabatan, tapi tentang pengabdian,” ujar Yuni dengan mata berkaca-kaca.

Keputusan ini selaras dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, yang memperbolehkan ketua menjabat hingga tiga periode.

Dalam sambutannya, Hj. Lisda Hendrajoni menegaskan bahwa Bundo Kanduang memiliki peran sentral sebagai pelindung nilai adat, penjaga moral, dan pendidik generasi. “Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya kita tak boleh tenggelam. Bundo Kanduang adalah cahaya di tengah keluarga dan masyarakat. Perannya tak tergantikan,” tegasnya.

Lebih dari sekadar simbol adat, Bundo Kanduang merupakan pilar kekuatan sosial yang mengakar kuat dalam falsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”. Mereka adalah penutur kearifan, penjaga tradisi, sekaligus pendidik dalam rumah tangga dan lingkungan sosial.

Musda juga menjadi ruang konsolidasi dan evaluasi program kerja. Yuni Darmi menyampaikan rencananya untuk memperkuat pelatihan adat, bahasa, dan seni tradisional dengan menggandeng instansi lintas sektor. “Kita ingin membentengi generasi muda dari kehilangan identitas. Budaya asing tak bisa dihindari, tapi kita bisa membekali anak-anak kita dengan akar yang kuat,” ungkapnya.

Musda VIII ini ditutup dengan semangat persatuan dan kesepakatan bersama untuk terus bergerak menjaga budaya, memperkuat peran perempuan dalam adat, serta menyiapkan program-program edukatif yang menyentuh langsung masyarakat di nagari-nagari.

Dengan berlandaskan semangat kebersamaan dan cinta pada warisan leluhur, Bundo Kanduang Kabupaten Pesisir Selatan siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai perempuan Minangkabau sejati.*Wandi*