Sakral Dan Penuh Makna,Alek Nagari Surantih Lantik 13 Datuak, Penguatan Adat Di Tengah Arus Zaman
- Jul 26, 2025
- Wandi Jusri
- Kabar Pessel news
Surantih, pilarnagari.kim.id, Pesisir Selatan — Tradisi adat Minangkabau kembali menggema megah di jantung Nagari Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Bertempat di Lapangan Gadih Basanai, Sabtu (26/7/2025), masyarakat se-Nagari Surantih bersatu dalam Alek Nagari Malewakan Datuak, sebuah prosesi sakral pelantikan 13 tokoh adat yang siap mengemban amanah sebagai pemimpin kaum.
Suasana penuh khidmat menyelimuti pelataran lapangan yang dipadati oleh ribuan masyarakat dari berbagai penjuru. Upacara adat dimulai dengan pengucapan sumpah oleh para calon Datuak, dilanjutkan dengan pemotongan kerbau sebagai simbol pengorbanan dan tekad dalam memikul tanggung jawab adat.
Inilah 13 Datuak yang Dilewakan Hari Ini:
1. Drs. Jamalus, MM – Dt. Bandaro Hitam
2. Ir. Firman Dalil, M.TP – Dt. Rajo Bandaro
3. Epi Kampai, SIP – Dt. Rajo Bandaro
4. Asril, B – Dt. Rajo Kayo
5. Bila Yukas – Dt. Tan Perak (Kaum Jambak Batu Bala)
6. Ir. Zamzami – Dt. Kando Marajo
7. Syamsiwal – Dt. Rajo Nan Sati
8. KHT. Jasmural – Dt. Bagindo Ibrahim
9. Asrol – Dt. Sati
10. Syafriul – Dt. Rajo Lenggang
11. Syafruddin – Dt. Rajo Basa
12. Yudel Yatman – Dt. Rajo Mangkuto
13. H. Saidal Masfiyudin, SH – Dt. Rajo Bilang
Bupati: Datuak Adalah Tiang Adat, Bukan Hanya Gelar
Bupati Pesisir Selatan, H. Hendrajoni, SH, MH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa gelar Datuak bukan sekadar kebanggaan, tetapi amanah besar yang harus dijalankan dengan ikhlas dan adil.
> “Ini bukan hanya seremoni atau pesta adat. Setelah hari ini, para Datuak wajib membimbing anak keponakan, menyatukan kaum, dan menjaga martabat nagari. Jika tidak, maka sumpah adat akan menjadi petaka, bukan berkah,” tegasnya.
Beliau mengingatkan makna mendalam dari sumpah adat Minangkabau:
> “Kaateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, ditangah digiriak kumbang, bak karakok tumbuah di batu, iduik sagan, mati ndak namuah.”
LKAAM: Datuak Harus Jadi Teladan Zaman
Mewakili Ketua LKAAM Pesisir Selatan, Wakil Ketua Nofrial Bahrun, SH, MH, Dt. Sati Maharajo juga menyampaikan pesan penting kepada para Datuak yang baru saja dilewakan.
> “Seorang Datuak adalah benteng terakhir adat. Ia harus jadi penengah, pengayom, dan teladan di tengah arus modernisasi. Jangan biarkan gelar ini hanya jadi hiasan tanpa manfaat,” ucapnya.
Ia juga mengapresiasi kekompakan masyarakat Surantih yang masih teguh menjaga warisan budaya yang mulai pudar di banyak daerah lain.
Bundo Kanduang Tutup Alek dengan Makan Bajamba
Sebagai penutup, seluruh hadirin menikmati makan bajamba—tradisi makan bersama yang penuh makna kekeluargaan. Hidangan disiapkan dan dibawa langsung oleh ibu-ibu Bundo Kanduang dari berbagai kaum, menciptakan suasana hangat dan harmonis sebagai peneguh semangat gotong royong Minangkabau.
Tradisi yang Terjaga, Adat yang Tetap Hidup
Alek Nagari ini bukan hanya tentang pelantikan Datuak, tapi juga cerminan bagaimana masyarakat Surantih menjaga api adat tetap menyala. Di tengah dunia yang terus berubah, adat Minangkabau masih berdiri tegak—karena di balik gelar, ada tanggung jawab, cinta, dan pengabdian untuk anak nagari.*Wandi*